Hubungan Kekerabatan atau Partuturon

Hubungan Kekerabatan atau Partuturon
(Sapaan dalam Budaya Batak Toba)

Jolo tinittip sanggar asa binahen huru-huruan,
Jolo sinungkun marga asa binoto partuturon.

BUDAYA Toba sangat kaya akan istilah hubungan kekerabatan (partuturon), sehingga bagi mereka yang tidak mengikutinya sejak kecil akan sulit menggunakannya dengan benar.

Oleh karena itu banyak orang Batak yang tidak begitu faham mengenai hubungan kekerabatan (partuturon), terutama mereka yang lahir dan besar di perantauan.

Bagi orang Batak, partuturon adalah sangat penting, karena partuturon adalah untuk mengetahui hubungan kekerabatan kita satu sama lain dan menentukan bagaimana kita menyapa kawan bicara kita.

Dalam upacacara adat, partuturon adalah dasar untuk mengetahui posisi kita, yaitu unsur mana kita dalam Dalihan Na Tolu: arti hurufiah, segitiga tungku api. Pada suatu saat kita bisa Dongan Tubu, di saat lain menjadi Boru dan dilain kesempatan menjadi Hula-hula.

Apabila kita salah dalam menyapa kerabat kita, maka bisa terjadi orang yang disapa tersebut menjadi tersinggung, karena merasa kurang dihargai pada posisinya yang sebenarnya. Juga partuturon ini sangat menentukan dalam pembagian jambar dalam acara adat. Oleh karena itu kita masyarakat Batak wajib memahami hubungan kekerabatan atau yang dalam bahasa Batak disebut Partuturon.

Berikut ini adalah “Partuturon” atau sistem kekerabatan yang lazim dipakai dalam Budaya Batak Toba, kiranya dapat berguna bagi pembaca.

Catatan: “Saya” adalah orang/saya yang sedang membaca tulisan ini :

1. Ahu baca au, adalah sebutan bahasa Batak Toba untuk “Saya”.
2. Amang saya ialah bapak kandung saya, disapa dengan Amang atau Among.
3. Amang juga digunakan untuk menyapa :
• Simatua doli = mertua laki-laki
• Hela = menantau laki-laki
• Haha doli = abang dari suami (saya perempuan)
• Amang naposo = ponakan laki-laki atau putra dari kakak atau adik laki-laki saya (saya perempuan). Di beberapa tempat, Amang Naposo juga dipanggil "Paramaan" atau semua laki-laki yang memanggil "Namboru" kepada saya (saya perempuan)
• Amang bao = besan laki-laki (saya perempuan)
• Panggilan kasih sayang kepada suami.
• Panggilan kasih sayang kepada anak laki-laki.
• Panggilan umum untuk semua Bapak-bapak yang kita hormati (sebelum diketahui hubungan kekerabatan).

4. Inang saya ialah ibu kandung saya, disapa dengan Inang atau Inong.
5. Inang juga digunakan untuk menyapa :
• Simatua boru = mertua perempuan
• Parumaen = menantu perempuan (saya lak-laki).
• Anggi boru = istri dari adik (saya laki-laki)
• Inang naposo = istri dari Amang Naposo (saya perempuan) (lihat di atas).
• Inang bao = besan perempuan (saya laki-laki).
• Panggilan kasih sayang kepada istri.
• Panggilan kasih sayang kepada anak perempuan
• Panggilan umum kepada semua Ibu-ibu yang dihormati (sebelum diketahui hubungan kekerabatan).

6. Ompung Suhut saya ialah ayah dan ibu dari bapak saya. Ayah dari bapak saya ialah
Ompung Doli, dan ibu dari ayah saya ialah Ompung Boru, keduanya disapa dengan Ompung (baca: oppung).

7. Ompung juga digunakan untuk menyapa :
• Ompung Doli dan Ompung Boru dari pasangan saya.
• Panggilan umum kepada semua orang tua (sebelum diketahui hubungan kekerabatan).
• Panggilan kasih sayang kepada cucu.

8. Amang-tua saya ialah abang dari bapak saya, dipanggil Amangtua/bapak tua

9. Amang-tua saya ialah juga:
• Suami dari kakak-perempuan ibu saya.
• Bapak dari ompung doli saya (amang tua mangulahi), ada juga menyebut ompung nini.
• Semua yang dipanggil abang oleh bapak saya (mis: karena hubungan marga atau abang
pariban).

10. Inang Tua saya ialah istri dari amang tua saya, disapa dengan
Inangtua/omatua/mamatua.

11. Inang Tua saya adalah juga:
• Kakak perempuan dari ibu saya.
• Ibu dari ompung doli saya (inang tua mangulai).
• Isteri dari orang yang dipanggil abang oleh bapak saya, termasuk abang pariban.

12. Amang-uda saya ialah adik laki-laki dari bapak saya, disapa dengan Amanguda/bapak uda.

13. Amang-uda juga dipakai untuk menyapa :
• Semua laki-laki yang dipanggil adik oleh bapak saya, termasuk adik pariban.

14. Inang-uda saya ialah isteri dari amang-uda saya, disapa dengan inanguda.

15. Inang-uda saya adalah juga :
• Adik perempuan dari ibu saya yang sudah menikah (adik pariban).

16. Inang-baju saya ialah adik perempuan dari ibu saya yang belum menikah

17. Angkang Baoa saya (saya laki-laki) adalah saudara laki-laki saya yang lebih tua dari saya (saya laki-laki), dipanggil Angkang (baca: akkang).

18. Angkang Baoa adalah juga (saya laki-laki) :
• Semua putra amang tua saya.
• Suami dari kakak perempuan istri saya.
• Suami dari kakak perempuan saya (saya perempuan).

19. Angkang Boru saya (saya laki-laki) ialah istri dari angkang baoa saya, disapa dengan Angkang.

20. Angkang Boru saya adalah juga:
• Suami dari kakak istri saya.
• Kakak perempuan saya (saya perempuan).
• Istri dari abang suami saya.

21. Anggi saya ialah (saya laki-laki) adik laki-laki saya, disapa dengan anggi atau anggia.

22. Anggi saya juga:
• Semua anak laki-laki dari Amang Uda saya (saya laki-laki).
• Semua laki-laki yang memanggil angkang kepada saya.
• Adik perempuan dari isteri saya.
• Adik perempuan saya (saya perempuan).
• Adik laki-laki dari suami saya.

23. Haha Doli saya (saya perempuan), disapa dengan Amang, ialah:
• Abang dari suami saya.
• Semua yang dipanggil abang oleh suami saya.

24. Anggi Boru saya (saya laki-laki) , disapa dengan Inang, ialah:
• Isteri dari adik saya.
• Semua isteri dari yang panggil abang kepada saya.

25. Tunggane Boru (= Parsonduk Bolon ) (saya laki-laki) ialah istri saya, disapa dengan Inang.

26. Tunggane Doli (= Sinonduk) saya (saya perempuan) ialah suami saya, disapa dengan Amang.

27. Anak saya adalah anak laki-laki saya, dipanggil Anaha, atau Amang.

28. Anak saya, juga anak dari isteri saya:
• Anak laki-laki dari abang dan adik laki-laki saya.
• Anak laki-laki dari pariban saya.
• Anak laki-laki dari yang semarga dengan saya.

29. Parumaen saya, juga parumaen dari isteri saya, dipanggil Inang (saya laki-laki) ialah:
• Istri dari anak saya.
• Parumaen dari abang dan adik saya
• Parumaen dari pariban saya.
• (istri saya memanggil parumaen saya dengan namanya atau panggoaranna = nama berdasarkan anaknya yang tertua).

30. Pahompu saya adalah putra dan putri dari anak-anak saya, dipanggil Pahompu.

31. Pahompu saya adalah juga pahompu isteri saya:
• Pahompu dari abang dan adik saya.
• Pahompu dari pariban saya.
• Semua yang memanggil ompung kepada saya.

32. Nini saya adalah cucu dari putra saya.

33. Nono saya adalah cucu dari putri saya.

34. Ondok-ondok saya adalah cucu dari cucu laki-laki saya.

35. Iboto atau Ito saya (saya laki-laki), ialah kakak dan adik perempuan saya, disapa dengan Ito.
36. Iboto atau Ito saya (saya laki-laki) adalah juga:
• Semua anak perempuan dari amang-uda dan amang-tua saya.
• Semua anak perempuan dari Namboru saya.
• Semua perempuan yang semarga dan sebaya dengan saya, (sebelum diketahui hubungan kekerabatan).
• Iboto dari ompung saya (ito mangulahi).
• Ito juga panggilan umum kepada semua perempuan yang sebaya, yang belum ada hubungan kekerabatan.

37. Iboto atau Ito saya (saya perempuan) adalah abang dan adik laki-laki saya, disapa dengan
Ito.

38. Iboto atau Ito (saya perempuan) saya adalah juga:
• Semua anak laki-laki dari amang-uda dan amang-tua saya.
• Semua anak laki-laki dari Tulang saya.
• Semua laki-laki yang semarga dan sebaya dengan saya, (sebelum diketahui hubungan kekerabatan).

• Ito juga panggilan umum kepada semua laki-laki yang sebaya, sebelum diketahui hubungan kekerabatan.

• Ito juga panggilan kepada cucu iboto saya ( i t o mangulahi).

39. Lae saya (saya laki-laki) ialah suami dari ito saya, disapa dengan Lae .

40. Lae juga dipakai untuk menyapa (hanya antarlaki-laki):
• Lae dari abang dan adik saya.
• Ito dari istri saya (tunggane).
• Semua putra dari Tulang saya.
• Anak laki-laki dan menantu laki-laki dari amang-boru saya.
• Semua laki-laki yang sebaya dengan saya yang beristerikan yang semarga dengan saya.
• Semua laki-laki yang memanggil Lae kepada saya.
• Panggilan umum untuk semua laki-laki, sebelum diketahui hubungan kekerabatan.

41. Bere saya adalah juga bere istri saya, ialah putra dari iboto saya, dan cucu laki-laki dari amang-boru saya.

42. Bere adalah juga abang dan adik menantu laki-laki (hela) saya.

43. Ibebere saya adalah juga ibebere dari isteri saya, ialah putri dari i t o saya dan cucu perempuan dari amang-boru saya.

44. Bere/Ibebere saya pada umumnya, semua yang ibunya semarga dengan saya (saya laki-laki).

45. Pariban saya ialah:
• Putri Tulang saya (saya laki-laki).
• Putra dari namboru saya (saya perempuan).
• Saudara perempuan dari isteri saya dan suaminya (saya laki-laki).
• Saudara perempuan saya dan suaminya (saya perempuan).
• Semua perempuan yang semarga dengan isteri saya dan suaminya (sayalaki-laki).
• Semua perempuan yang semarga dengan saya dan suaminya (saya perempuan).

46. Pariban so olion saya ialah:
• Cucu perempuan dari Tulang ibu saya (saya laki-laki).
• Cucu laki-laki dari namboru bapak saya (saya perempuan).

47. Amang Bao saya (saya perempuan), disapa dengan Amangbao, atau Amang, atau Bao, ialah:
• Suami dari iboto suami saya.
• Amang Bao dari kakak adik saya.
• Suami dari putri amang-boru saya.

48. Inang Bao saya (saya laki-laki), disapa dengan Inangbao, atau Inang, atau . Bao, ialah :
• Istri dari iboto istri (tunggane) saya.
• Inang Bao dari abang dan adik saya.
• Istri dari putra Tulang saya.

49. Eda (hanya antarperempuan) saya (saya perempuan), disapa dengan Eda, ialah :
• Istri dari iboto saya.
• Putri dari Tulang saya.
• Iboto dari suami saya.
• Putri dari namboru saya.
• Panggilan umum kepada semua perempuan yang sebaya, yang belum diketahui hubungan kekerabatan.

50. Namboru saya ialah iboto dari bapak saya, disapa dengan Namboru.

51. Namboru juga dipakai untuk menyapa:
• Namboru suami saya (saya perempuan).
• Mertua perempuan dari iboto saya (saya laki-laki).
• Mertua perempuan dari kakak perempuan saya (saya perempuan).
• Ibu dari amang bao saya (saya perempuan).

52. Amang-boru saya ialah suami dari namboru saya, disapa dengan Amangboru.

53. Boru saya adalah putri saya, disapa dengan Boru, Ito atau Inang.

54. Boru saya adalah juga boru dari isteri saya, yaitu :
• Boru dari abang dan adik saya.
• Boru dari yang semarga dengan saya.
• Boru dari pariban saya.

55. Boru Tubu saya ialah putri kandung saya dan i t o kandung saya (saya laki-laki)

56. Boru Diampuan saya:
• Semua boru tubu dari abang dan adik kandung saya.
• Semua boru kandung dari amang-tua dan amang-uda kandung saya.

57. Boru Namatua saya ialah:
• Amang boru/namboru dari bapak saya.dan keturunannya.
• Amang-boru/namboru saya dan keturunannya.

58. Hela saya juga hela dari isteri saya, disapa dengan Amanghela atau Amang, ialah:
• Suami dari putri saya
• Suami dari putri-putri abang dan adik saya.
• Hela dari abang dan adik saya.
• Hela dari pariban saya.

59. Simatua ni Boru saya, ialah orang tua dari hela saya.

60. Boru saya juga boru dari isteri saya, adalah semua orang yang isterinya semarga dengan saya (saya laki-laki).

61. Tulang saya adalah iboto (saudara laki-laki) dari ibu saya .

62. Tulang juga dipakai untuk menyapa:
• Iboto dari inang-tua dan inanguda saya.
• Panggilan untuk anak laki-laki dari tunggane (= tulang naposo saya (saya laki-laki).
• Bapak dari ompung bao saya (tulang mangulahi).
• Tulang juga adalah panggilan umum untuk kelompok hula-hula.

63. Nantulang saya ialah isteri dari tulang saya.

64. Nantulang juga panggilan untuk:
• Istri dari abang dan adik tulang saya.
• Ibu dari ompung bao saya (nantulang mangulahi).
• Istri dari putra tunggane saya (nantulang naposo).

65. Tunggane saya (saya laki-laki) ialah iboto dari istri saya, disapa dengan Lae.

66. Tulang Naposo = saudara laki dari ibu (Paramaan) saya (saya laki-laki) adalah putra dari tunggane saya, dipanggil Tulang.

67. Amang Naposo (Paramaan) saya (saya perempuan) , dipanggil Amang, ialah :
• Putra dari iboto saya.
• Semua laki-laki yang memanggil namboru kepada saya.

68. Inang Naposo saya ialah istri amang naposo saya (saya perempuan), dipanggil Inang.

69. Maen saya ialah:
• Putri dari tunggane saya (saya laki-laki).
• Putri dari iboto saya (saya perempuan).
• Semua yang memanggil amang-boru atau namboru kepada saya.

70. Simatua saya (saya laki-laki) ialah orang tua dari isteri saya. Simatua-doli disapa dengan Amang, dan Simatua-boru disapa dengan Inang.

71. Simatua saya (saya laki-laki) termasuk:
• Abang dan adik simatua-doli saya.
• Kakak dan adik-perempuan simatua-boru saya.

72. Simatua saya (saya perempuan) ialah orang tua dari suami saya. Simatua-doli disapa dengan Amang dan simatua-boru disapa dengan Inang.

73. Simatua saya (saya perempuan) termasuk abang dan adik dari simatua saya.

74. Hula-hula saya adalah juga hula-hula istri saya, yaitu mertua saya serta abang dan adiknya.

75. Hula-hula pada umumnya sebutan kepada pihak yang semarga dengan mertua dan semuaTulang saya.

76. Bona Tulang saya ialah hula-hula ompung saya atau tulang bapak saya dan keturunannya (saya laki-laki).

77. Tulang Rorobot saya ialah tulang ibu saya beserta keturunannya (saya laki-laki).

78. Bona ni Ari saya ialah tulang dari ompung saya dan keturunannya (saya laki-laki).

79. Ompung Bao saya ialah orang tua dari ibu saya.

80. Hula-hula marhaha-maranggi saya (saya laki-laki) ialah:
• Mertua (hula-hula) dari abang dan adik laki-laki saya.
• Hula-hula amang-tua dan amang-uda saya.

81. Hula-hula Naposo (Hula-hula Parsiat) saya (saya laki-laki) ialah:
• Mertua (hula-hula) dari putra saya.
• Mertua (hula-hula) putra abang dan adik kandung saya.

82. Hula-hula Sijungkot saya ialah mertua (hula-hula) dari pahompu saya (saya laki-laki).

Partuturon ini disusun berdasarkan pengalaman mengikuti partuturon sehari-hari dan informasi dari berbagai sumber, disadari bahwa pasti ada kekurangan atau tidak sesuai dengan pendapat pembaca, untuk mana diharapkan kritik dan perbaikan.


Jolo tinittip sanggar asa binahen huru-huruan,
Jolo sinungkun marga asa binoto partuturon.

DUA PUNGGA SAPARIHOTAN

TONGKA DUA PUNGGA SAPARIHOTAN
Penulis : Patuan Raja Bonar Siahaan

Ia pungga ima sada ula-ula patajom raut, tangke, kapak, golok dohot nahombar tusi. dua ragam do pungga dipangke pande. Sada pungga risi (pungga kasar) sada pungga lamot (licin). Sian Batu do dibahen pungga i umbahen ndang didok batu puanggal (Batu Asah). Umbalga do dibahen pungga na risi i (pungga Asaan) asa ummura tajom napinunggana, dungi dipungga ma muse tu pungga lamot asa lamot (halus) na niulana. Alai molo holan martaba-taba hau do ndang pola sai ingkon punggaonna be ula-ulana i dohot pungga lamot. Somalna najolo dirahut do ujung ni pungga lamot asa suman diboan manang disangkothon Sada do somalna punggana i saparihotan (gantungan).

Adong ma partaba hau laho borhat tu harangan laho palolo parhau ni jabu, unang parimbahu ninna rohana boan-boanna, dipadomu ma punggana i dua saparihotan, disangkothon ma digontingna. Alai ditingkki mardalan dope sibuat hau i, masiantuhan ma pungga na dua i, sian na so panghilalaanna, gabe mabola ma pungga nadua ndang boi be dipangke. Marsak ma ibana ndang tajom be ula-ulana, ala naung matapor punggana na dua i. Sundat ma ulaonna paima di lului ibana muse pungga laho patajom tangkena, dohot rautna.

Adong do hata Batak mandok, mata guru roha sisean, ndang sibahenon hape dua pungga saparihotan, gabe patunda arsak do ujungna, laos digombarhon ma i masuk tu ruhut ulaon. Ala ni i didok angka natua-tua ma unang dua pungga saparihotan asa tulus ulaon, gabe dipatudos ma i tu anak mangoli dohot boru muli unang dua saparihotan.

Lapatan na, adong ma anak ni paranak mangoli boru ni parboru, baoa i mangoli boru siangkangan, laos anggi ni baoa i mangoli anggi ni borua i (pariban) gabe sada simatua ma namarhaha-maranggi dohot na marpariban.

Ia dihalak Batak Toba subang do margait tu anggi boruna ala hira na marpaurmaen do halak Batak Toba tu anggi boruna i. Dirajumi do hahana i songon pangintubu di adat nang di siulaon. Alai na marpariban, boi do bahenon pargaiton, alana ianggo anggi pariban do na boi do i muse singkat rere tu hahana pariban molo jumpang tingkina. Halak Batak Toba molo pangolihon anak dohot pamuli boru na manambai partuturon do, molo adong pestana (ulaon) asa torop tutur mangadopi ula on. Molo sada do simatua ni dua anak dohot sada simatua ni boru na marhasohotan, tung manggorahon jambar pe nunga haduk idaon ni natorop. Jadi tung diorai adat do i di Batak Toba. Dua namarhaha, maranggi sada simatua, unang sega paranggi boru on, unang sega ruhut parparibanon.

UNANG DUA SAPARASOMAN

Molo marsiulaon (pesta) halak Batak somal do diseat pinahan lobu sampe lima, saparasoman do dibahen i. I do umbahen adong hata mandok goar gota, mudar ni pinahan i do i, dipadomu sainganan. Mudarna i do didok gotana, ai ndang sidohonon sipanganon mudar, gabe diganti ma goar na dohot “gota”, nang pe manang piga diseat pinahan disada pesta i, ianggo na margoar parjambaron sian sada pinahan do dipatupa. Dihalak Batak digombarhon do parulaon tu paradaton, dilapathon ma i tu hadirion ni angka ugari, ai ndang suman dua ulaon pangadation dibagasan sada ari lumobi pasahat adat tu hula-hula.

Hatorangan :
Adong ma mamungka parsaripeon sada baoa dohot sada borua. Nunga sampe doli-doli dohot namarbaju ianakhonna, laos so diadati dope hula-hulana (manggarar adat). Sada tingki laho pangolihonnonna ma anakna dibagasan adat, marningot ma ibana na so manggarar adat dope nasida tu hula-hulana (simatua ni napangolihon), gabe dipadomu ma ulaon adat. Dibahen (natoras ni pangoli) ma ulaon manogot pangadation tu hula-hulana, ulaon dijabu ma dibahen, ndang marantaran nabidang marlobuan nagodang be goar ni siulaonna. Olo ma holan tolu manang opat halak hula-hulana ro, songon i dongan tubu dohot boru, laos olo do ndang ro tulang ni ama dohot ina.

Asal ma goarna mangadati dihudus ulaon ai naeng hatop pasaut ulaon pangolion ni anakna laho patupahon pesta na balga. Olo ma marsak hula-hula na mangantusi adat, boruna manang ibotona do patupa hepeng (biaya) pangoli ni berena hape leas do dibahen tu nasida, holan sipalemsem nama ulaon pangadation i di rohana, berengon ni natorop pe hurang suman do pambahenanna i.

Ia molo diulaon (unjuk) ni anak, na olo do dipatupa horbo sitingko tanduk parjuhutna, jala huhut di patupa dohot musik. Marolop-olop ma hula-hula ni parumaen dohot tinogihonna manginongi ma roha ni hula-hulana, naumboto huhut ni adat.

Ruhut ni adat di habatahon leas ni roha (pelecehan) do i tu hula-hula, sipaula do pangadation i asal ma didok naung digoar naung sahat adat hape songon opera dibahen ulaonna lumobi tu hula-hulana.

Molo diruhut ni habatahon tung subang do bahenon sipaula (sipalensem) adat, ingkon denggan do sulang-sulangan hula-hula di ari na binuhul, unang adong na marhansit ni roha. Ido umbahen diorai adat dohot uhum, Unang Dua Pungga Saparihotan Unang Dua Saparasoman.

Sumber :
https://tanobatak.wordpress.com/2007/05/18/tongka-dua-pungga-saparihotan/

Anda Kenal Tahul-tahul alias Kantong Semar?

Tahul-tahul alias kantong semar dengan bahasa latinnya Nepenthes spp; sering kita temukan pada perjalanan ke Batuharang di desa Lumban ina-ina Kecamatan Pagaran, ditepi atau dipinggir jalan menuju batuharang ataupun ladang lainnya dan juga di daerah lainnya pasti pernah menemukan atau melihatnya. Di daerah Humbahas tumbuhan ini juga banyak ditemukan, mis.: Silaban rura, Pakkat Sitio-Tio, Sosor Gonting, Bakara, dan Dolok Sanggul.

Pada masa kecil dulu tumbuhan ini tidak memiliki manfaat apa-apa cuma sekedar bisa dibuat mainan pelipur lara pada saat capek diperjalan. Apabila kita ingin membasmi semut, lalat, dan kecoak di rumah? Pelihara saja kantong semar. Tanaman pemangsa serangga ini agaknya menjadi cara alami yang ampuh membasmi semua serangga pengganggu, sekaligus mempercantik rumah dengan penampilannya yang unik. Nepenthes sangat unik karena berbeda dengan tanaman hias yang sering dijadikan koleksi. Bukan tanpa alasan jika tahul-tahul begitu sebutan di sebagian Sumatera - digemari. Penampilan tanaman pemakan serangga itu memang impresif. Dari ujung daun, keluar kantong yang punya bentuk dan corak beragam. Tanaman yang termasuk dalam golongan carnivorous plant (tumbuhan pemangsa) ini bersama amorphophallus, rafflesia, dan lainnya dikategorikan sebagai tanaman hias unik nan cantik.
 
Kantong semar tergolong ke dalam tumbuhan liana (merambat), berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Tumbuhan ini hidup di tanah, ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain sebagai epifit.

Keunikan dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Sebenarnya kantong tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya.


 

Nepenthes memang belum sepopuler tanaman hias lainnya seperti anggrek, mawar, dan sebagainya. Walaupun, namanya sudah dikenal di mancanegara bahkan beberapa negara telah berhasil membudidayakan, seperti Thailand dan Belanda, dan telah mendapatkan devisa yang cukup besar dari nepenthes, dinegeri asalnya Indonesia tanaman pemangsa ini, keberadaannya tidak ada yang memperhatikan, sayang sekali ternyata kita belum begitu perhatian dengan potensi daerah kita.


Sumber : 

Pirdot Tumbuhan Liar Obat Diabetes

Daun Pirdot Ramuan Obat Diabetes

Kalau Anda kebetulan bepergian ke daerah Tapanuli (Siborongborong, Pagaran, Tarutung, dan sekitarnya) atay ke daerah Toba  seperti Parapat dan Balige, di pinggiran sepanjang jalan lintas Sumatera itu Anda bisa melihat pohon Pirdot.

Pirdot, sebuah nama yang mungkin tidak pernah Anda dengar atau  sudah terlupakan oleh kita. Pirdot itu adalah nama tanaman liar yang tumbuh di dekat aliran air atau di tempat lembab/teduh. Pirdot berbentuk pohon, tetapi memiliki dahan yang gampang patah. Daunnya berukuran lebar dan memiliki dua sisi warna yang berbeda. Sisi daun bagian atas berwarna hijau, sisi daun bagian bawah berwarna kecoklatan.

Pirdot memiliki buah kecil yang jika sudah matang dapat dimakan. Buah yang matang akan berisi lendir bening dan biji-biji kecil halus (seperti biji dalam buah naga). Anak-anak muda di tanah Batak menyebut buah Pirdot ini dengan buah ingus (mommon) karena lendir yang ada dalam buahnya. Di Desa Girsang, pirdot ini sering disebut dengan garuan.

Pirdot, rasanya manis dan ada biji-biji kecilnya.
Juga makanan favorit parmahan.

Tanpa diduga ternyata daun Pirdot ini memiliki khasiat untuk mengobati berbagai penyakit. Salah satu penyakit yang dapat diobati menggunakan daun Pirdot ini dan sudah banyak yang membuktikannya adalah penyakit diabetes (penyakit gula). Banyak orang datang dari kota ke daerah Girsang dan Sipangan Bolon (desa di seputaran Parapat) untuk  mencari tanaman ini. Tanaman ini  sangat jarang ditemukan karena hanya tumbuh di daerah-daerah tertentu. Beruntung sekali tanaman Pirdot ini banyak ditemukan di daerah Girsang Sipangan Bolon.

Cara menjadikan daun Pirdot ini menjadi obat. Pertama, daunnya harus dikeringkan terlebih dahulu. Rebuslah 7 lembar daun Pirdot yang telah kering tersebut dalam wadah yang berisi 3 gelas air. Rebuslah daun tersebut sampai air yang tersisa tinggal satu gelas, lalu dinginkan dan diminum. Lakukan 2 kali sehari, pagi dan sore. Dengan rutin mengkonsumsi air rebusan daun pirdot yang sudah dikeringkan, kadar gula dalam tubuh anda akan normal kembali. Jika kadar gula sudah normal, ada baiknya anda memperhatikan pola makan anda dengan mengurangi makanan yang mengandung gula. Selain memperhatikan pola makan, tetaplah rajin berolahraga.

Artikel ini berdasarkan cerita dari seorang penderita Diabetes yang menggunakan daun Pirdot untuk menormalkan kadar gula darahnya. Selain diabetes, pirdot juga berkhasiat untuk mengobati penyakit dalam lainnya. Misalnya kanker dan tumor. Tapi pastikan Anda mengambil daun Pirdot yang asli, sebab ada tanaman yang mirip juga dengan ini. Tanaman yang mirip ini disebut dengan "Bulung ni Motung" (Daun Motung). Daun Motung ukurannya lebih lebar dan buahnya menyerupai buah Kecapi (Sotul). Jadi jangan sampai salah ambil.


Sumber :
  • http://marisi-last.blogspot.com
  • http://tunasbaru2013.blogspot.com
  • http://www.parapatnews.com

Bangun-bangun

Manfaat Bangun-bangun
Berdasarkan berbagai literatur yang mencatat pengalaman secara turun-temurun dari berbagai negara dan daerah, tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit-penyakit sebagai berikut :


  1. Sariawan. Lima lembar daun segar dicuci bersih lalu dibilas dengan air matang. Daun yang sudah bersih lalu dikunyah perlahan-ahan, airnya ditelan dan ampasnya dibuang.
  2. Demam. Daun segar 7 lembar dicuci bersih lalu dibilas dengan air matang, tumbuk sampai seperti bubur lalu diperas dan disaring. Airnya diminum dan ampasnya dipakai untuk menggosok badan.
  3. Asma dan batuk. Daun segar 10 lembar cuci bersih dan bilas dengan air matang, tumbuk sampai seperti bubur lalu diperas dan disaring. Air perasannya ditambah minyak wijen, minum.
  4. Batuk rejan. Biji jinten ¾ sendok teh digiling halus, lalu diseduh dengan ½ cangkir air panas, tambahkan 1 sendok makan madu, aduk sampai merata. Diminum selagi hangat 2 kali sehari.
  5. Sakit kepala. Daun segar dicuci bersih lalu dimemarkan, tempelkan di kepala dan pelipis.
  6. Rematik. Daun segar 10 lembar dicuci bersih lalu digiling halus, tambahkan air kapur sirih secukupnya dan diremas sampai merata. Bubur daun tersebut digunakan untuk melumas dan menggosok bagian yang sakit.
  7. Ayan. Daun jinten 30 lembar,ngokilo 10 lembar, lenglengan 25 lembar, sambiloto 40 lembar, meniran 8 sirip,gula enau 3 jari. Cuci danpotong-potong seperlunya lalu direbus dengan 4 gelas air bersih sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum. Sehari 3 x ¾ gelas.
  8. Perut kembung. Daun 5 lembar, cuci tumbuk halus, seduh dengan ¾ cangkir air panas. Saring, minum
  9. Memperbanyak asi. Daun jinten dimasak dengan sop ayam. Makan seluruhnya.
  10. Aphrodisiak. Seluruh tanaman direbus bersama bahan lain.

Kandungan Kimiawi
Tumbuhan ini kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, antara lain: Daun : Kalium, minyak atsiri 2% yang mengandung karvakrol, isoprofil-o-kresoldan fenol.

 
Nama umum
Indonesia: Bangun-bangun, daun kucing, daun kambing
Inggris: Country borage, Indian mint, Mexican mint
Vietnam: Tan day la
Cina: Zuo shou xiang, yin du bo he, dao shou xiang
Jepang: Kuuban oregano

Kilas Kisah Lopian, Putri Raja yang Tewas di Pangkuan Ayah

Tugu Sisingamangaraja XII dengan latar Kota Tarutung. Disini pertama kali jenajahnya dimakamkan sebelum dipindahkan ke Balige.(By.Leonardo Joentak)


Satu abad lebih telah silam.Tanggal 17 Juni 1907 adalah hari bersejarah bagi orang Batak, dikaitkan dengan sejarah perjuangan Patuan Bosar Ompu Pulo Batu (Raja Sisingamangaraja XII). Pada hari itu, di suatu tempat sepi di sekitar Pearaja, Sionom Hudon, Dairi, sejarah mencatat tragedi kematian Sisingamangaraja XII (SSM XII). Dua orang putranya yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta empat orang panglimanya yang setia, ikut tewas pada waktu yang hampir bersamaan.

Dalam bingkai kisah tragis itu, anak perempuan SSM XII bernama Lopian (lazim disebut Putri Lopian) mengalami luka cukup parah terkena peluru senapan serdadu Belanda yang dipimpin kapten Christoffel. Saat itu Lopian masih berusia 17 tahun. Dia setia hingga akhir mengikuti ayahandanya ketika SSM XII diburu Belanda keluar masuk hutan belantara.

Meski dalam beberapa hal, kisah kematian SSM XII kadang ada selisih versi, namun secara umum merupakan gambaran historis tentang adegan klimaks yang amat dramatis dari seluruh mata rantai perjuangan SSM XII selama lebih kurang 30 tahun menentang Belanda.

Momentum pertempuran sengit di sekitar Pearaja, Dairi, adalah fakta sejarah dimana hampir seluruh sanak keluarga SSM XII turut terlibat secara frontal menghadapi kepungan tentara Belanda yang penuh nafsu membunuh. Berdasarkan sejumlah referensi seputar tragedi kematian SSM XII, detik-detik terakhir pada medio Juni 1907 itu, merupakan momentum sangat genting penuh ketegangan. Pada saat itu, SSM XII bersama isteri, anak-anak, para panglima dan sisa pasukannya, terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan, dalam kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata lebih modern.

Sore yang kelabu tanggal 17 Juni itu, agaknya sudah ditakdirkan sebagai ending perlawanan SSM XII. Dalam posisi terjepit oleh kepungan pasukan Christoffel, pasukan SSM XII dengan persenjataan kelewang, tombak, dan bambu runcing, benar-benar tak berdaya menghadapi hujan peluru yang dimuntahkan serdadu- serdadu Belanda. Patuan Nagari tewas tertembak di antara desing peluru yang tiada hentinya. Sejumlah sisa pasukan SSM XII juga jatuh terkapar saat mencoba melakukan perlawanan. Sementara itu Kapten Christoffel berseru, agar SSM XII menyerah dan supaya piso gajah dompak yang terkenal keramat itu diberikan. Tetapi SSM XII dari tempatnya berlindung menyahut tegas: “Lebih baik mati dari pada menyerah kepada penjajah”.

Pada saat bersamaan, terdengar jeritan Lopian putri sang raja, yang rupanya terkena tembakan. Seketika SSM XII terkesima, melihat putrinya tercinta rubuh bersimbah darah di atas rerumputan. Dengan piso gajah dompak terhunus di tangan, SSM XII mendekati Lopian dengan langkah gontai, dan langsung memangkunya. Amarahnya meluap. Hatinya luluh melihat putrinya sekarat diterjang peluru penjajah. Namun saat itulah SSM XII tersentak, sadar, bahwa ia berpantang kena darah. Tubuhnya digambarkan lesu, dan kesaktiannya yang legendaries itu seakan pudar. Lalu SSM XII berbisik:” Saatnya sudah tiba…” Tak berapa lama kemudian, beliau juga rubuh oleh tembakan yang dilepas Christoffel dalam jarak tak terlalu jauh. Melihat hal itu, para panglima dan pengikut SSM XII bagai terpana. Sulit mempercayai baginda bisa dilukai peluru.

Akan halnya Lopian, keadaannya sekarat akibat peluru yang mengenai ulu hati. Lalu, rentetan kisah selanjutnya menyebut Lopian sempat ditawan Belanda. Tapi selama ditawan, Lopian memperlihatkan daya tahannya yang luar biasa menentang Belanda. Lopian dilukiskan tidak merintih atau mengeluh dengan luka yang dideritanya.

Adniel Lumbantobing seorang pemerhati kisah perjuangan Sisingamangaraja XII menulis sebuah buku “ Sisingamangaraja XII” pada tahun 1967. Buku itu cukup detil melukiskan perjuangan SSM XII, walaupun rangkaian kisahnya ditulis dengan sederhana. Menurut buku itu, Lopian yang sempat ditawan Belanda, kemudian dibunuh dan mayatnya dibuang ke sungai Pancinoran, di kaki gunung Batu Gaja, Dairi. Tidak diceritakan, siapa yang kemudian mengambil mayat Lopian.

Sementara Prof Dr WB Sijabat dalam buku telaah ilmiahnya “ Ahu Sisingamangaraja” melukiskan, Lopian sosok putri yang setia hingga akhir mendampingi ayahnya dalam kancah perjuangan yang meletihkan. Kendati sebelum kematiannya SSM XII telah memerintahkan seluruh keluarga mencari tempat perlindungan yang aman, tapi Lopian bersikeras ingin mendampingi ayahnya. Itu sebabnya, selama detik-detik perburuan Belanda terhadap SSM XII, Lopian ikut bergerilya mendampingi, dan ikut melakukan perlawanan.

Cuplikan sejarah ini saya kutip berkaitan dengan peringatan Hari Wafatnya Raja Sisingamangaraja XII tanggal 17 Juni 2007 ini. Meskipun Lopian dalam kisah perjuangan SSM XII mungkin ditempatkan pada posisi “figuran”, tapi sesungguhnya perannya cukup strategis dan bermakna historik tersendiri dalam mata rantai perjuangan SSM XII secara lokal maupun regional. Kehadiran dan peran Lopian memang tidak diletakkan pada posisi sentral figur pada setiap penulisan sejarah perjuangan SSM XII. Peran ketokohan dan kejuangan lebih condong pada kedua putra SSM XII, yakni Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Mungkinkah karena Lopian seorang anak perempuan yang porsinya dinilai tak begitu besar dalam ruang lingkup perjuangan itu? Namun bila dicermati, posisi Lopian sesungguhnya mencerminkan sebuah nilai penting, terutama dikaitkan pada momentum akhir kehidupan ayahnya. Paling tidak, momentum akhir itu merefleksikan interaksi bathin seorang ayah dengan seorang anak, atau sebaliknya. Ternyata di saat paling krisis sekalipun, kepentingan (keselamatan) diri sendiri terkadang bisa menempati prioritas kedua, ketika kepentingan lain ( kesetiaan pada perjuangan), menjadi prioritas utama.

Justru itu, ketika beberapa waktu lalu muncul suara yang mengusulkan agar Lopian dinobatkan menjadi “pahlawan nasional” seperti juga ayahnya, banyak yang menyahuti usulan itu dengan respons positif. Sebuah tulisan di salah satu media terbitan Medan, menyatakan Lopian lebih kurang sama dengan Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Lopian dalam konteks perang SSM XII, bukan sekadar penonton atau pelengkap penderita. Dia ikut berada di garis depan, ikut bergelut dengan kemelut, bergerilya di tanah penuh duri dan hutan belantara. Lopian tahu, posisinya tidak menguntungkan saat peluru tajam berdesingan di kiri kanan dan di atas kepalanya. Lopian juga mungkin tahu, dirinya menjadi beban tersendiri bagi ayahandanya. Tapi Lopian telah membuat satu keputusan penting: apapun yang terjadi, ingin tetap bersama ayahnya.

Kadar kejuangan Lopian mungkin belum bisa disetarakan dengan Cut Nyak Dhien di Aceh. Sebab, dalam perang Aceh, Cut Nyak Dhien berposisi sebagai figur sentral, langsung memimpin di lapangan. Sedang Lopian boleh disebut, posisinya mungkin cuma “kebetulan” ikut bersama rombongan SSM XII di medan juang. Tapi paling tidak, dari sudut kadar kejuangan dan semangat anti kolonialisme, nilai-nilai yang terkandung pada jatidiri Cut Nyak Dhien dan Lopian, relatif sama. Mereka sama-sama berjuang, bergerilya, menderita di arena, bertekad sama, dan mati untuk tujuan yang sama.

Nilai kejuangan dan kepahlawanan SSM XII telah dibakukan pemerintah Indonesia, dengan menabalkannya menjadi Pahlawan Nasional. Namanya pun ditabalkan menjadi nama jalan di kota-kota besar maupun kota kecil. Bahkan gambar SSM XII yang direka pelukis Agustin Sibarani sudah pernah menghiasi lembaran uang RI tukaran Rp 1.000 (seribu rupiah). Sementara itu masyarakat Batak juga menabalkan nama besar Sisingamangaraja XII dengan ragam apresiasi. Ada yang menabalkannya menjadi nama universitas, ada yang menabalkannya dalam bentuk kelembagaan seperti Lembaga Sisingamangaraja XII di Medan, Sumut, walaupun kurang jelas apa manfaatnya , untuk apa, untuk siapa, dan sudah bagaimana eksistensinya saat ini.

Penghargaan terhadap nama Patuan Nagari dan Patuan Anggi, dua putra SSM XII juga sudah ada, seperti pembuatan nama jalan di Pematang Siantar, Sidikalang, Balige, Tarutung, dan kota lainnya di Tapanuli. Demikian halnya nama jalan Putri Lopian di Desa Aek Siansimun Tarutung. Itu menunjukkan, bahwa nilai kejuangan Lopian juga diakui orang Batak. Kalau ada yang tidak mengakui, itu pasti karena tidak tahu siapa Lopian dan kenapa dia tewas. Kebanyakan orang mungkin hanya sekadar tahu, bahwa Lopian adalah putrid Sisingamangaraja XII. Tidak dalam konteks kejuangan yang lebih detil.

Lalu, belakangan ada yang melontarkan pertanyaan: mengapa kisah perjuangan Sisingamangaraja XII tidak diabadikan dalam sebuah film kolosal seperti halnya film yang dibuat tentang Diponegoro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Teuku Cik Ditiro, dan lain-lain. Bahkan kisah Lopian, tak kurang menariknya bila diuntai dalam sebuah novel yang kerangkanya adalah kisah perjuangan SSM XII.

Nama Sisingamangaraja XII, sudah menjadi salah satu brand Tano Batak seperti halnya Dr IL Nommensen. Dua nama besar itu berkiprah dalam konteks berbeda tapi berskala relatif sama. Di Sumut ada Universitas Nommensen dan ada Universitas Sisingamangaraja. Sejauh mana orang-orang di balik penggunaan nama itu telah membuahkan sesuatu yang “besar” untuk kepentingan Tano Batak, sebagai basis perjuangan kedua pemilik nama besar itu, masih perlu dikaji dan dicermati.

Kita tidak ingin cuma apresiasi yang sifatnya monumental. Kita ingin, agar mereka yang kini telah berhasil “menimba” fulus dari nama-nama besar itu, membuahkan arti lebih luas bagi Tano Batak, minus kepentingan pribadi semata. Diresmikannya museum nasional Sisingamangaraja di Bakara baru-baru ini memang sudah merupakan satu langkah yang tepat. Itu artinya, Bakara sebagai pusat kerajaan Sisingamangaraja kita arahkan sebagai salah satu situs kesejarahan perjuangan nasional. Namun lebih dari itu, adalah wajar ditindaklanjuti, aspirasi keturunan Sisingamangaraja, bagaimana supaya semua asset historis raja itu (piso Gajah Dompak, stempel/cap, dan lain-lain) yang saat ini berada di negeri Belanda, dapat dikembalikan ke tempat asalnya. Hal itu bisa terealisasi, tergantung sejauh mana pemerintah Indonesia merespons melalui berbagai lobi, termasuk lobi-lobi diplomatik.

Sumber : http://sejarah.kompasiana.com

CITA-CITA NI HALAK BATAK

Cita-cita ni Halak Batak dalam Falsafah Hidup Bangso Batak "Dalihan Na Tolu" :

1. Marhagabeon = asa dapot i, ingkon Somba marhula-hula ( Debata na ni ida ), marsomba jari-jari sampulu pasampulusadahon simajujung.

Implementasina = pihak hula-hula ingkon taokkuhon do nasida panuturi, silehon pasu-pasu ( panungganei = tunggane ) tu pihak Boru, jadi ingkon di toru do tangan ni Boru mangarangguthon pasu-pasu i.

2. Hamoraon = asa dapot i, ingkon elek ma marboru ( boru silehon tumpak, pansalongan na lomaK, pangurupi di angka ulaon = sipusuk jambulan).

Implementasinya = pihak hula-hula ingkon malo mambuat rohani boruna, ingkon lambok mandok sidohononna,molo tungpe mardandi boru i ingkon dielek do sampe boi mengkel jala las rohana, pantang lalu tangan tu boru, alani i buas ma boru i mangalehon tumpakna/siluana.


3. Hasangapon = asa dapot i ingkon manat mardongan tubu.

Molo adong siulaon naborat, nabalga, naporlu sahali, ingkon jumolo do dipabotohon, marpanungkun tu dongan tubu.

Molo nunga satolop dongan tubu gabe tubu ma pos ni roha, jala tulus ma sude sangkap ni roha dohot sangkap ni pingkiran laho mangulahonsa. Molo dung tulus adong ma hasangapon = prestasi dan harga diri.

Implementasinya = ingkon adong prinsip piso manaba bulu, tangke manaba soban, monang mangalo musu alai ingkon talu mangalo dongan.

Jadi maralohon dongan tubu ingkon olo talu, unang sai naeng monang. Unang pajolo gogo papudi uhum ( pamer adu fisik = anggar jago, pada hal resiko pelanggaran hukum ( hukum adat ) tidak diperdulikan/ diabaikan.

4. Hasortaon = godang ale-alena (paopat sihal-sihal ). Asa dapot i, ingkon pantun marpangalaho, lambok mamrpangkuling, adat martutur di pardonganon ( pergaulan ) siganup ari.

Implementasinya = ingkon adong prinsip : " galang do mulani harajaon, bulus mulani dame, dongan sahuta pamintoran, hata torop sabungan ni hata, unang masijujuran di nahurang,na nilehon ni tangan siamun ndang porlu botoon ni tangan sihambirang.
Tung holong ni roham do ninna alm. Nahum Situmorang.

Semoga ada manfaatnya untuk kita semua, GBU.


By. : Drs Jekson Ltoruan

Pustaha Pengobatan Tradisional Batak - 2

II.PROSES PENGOBATAN DAN PERLINDUNGAN

1. Proses Penyucian :
Dalam proses ini si Pasien dimandikan dengan jeruk purut agar bersih dari segala jenis kotoran, baik dalam badan maupun batin dan darah.

2. Proses membangkitkan aura atau kekuatan darah :
Dalam proses ini segala energi organ tubuh dibangkitkan dengan cara berdoa dan mengisi kesaktian.

3. Proses memberi perlindungan :
Dalam proses ini si Pasien di bungkus dengan kain tiga warna dengan tujuan agar si Pasien tersebut terbungkus dalam hulambu jati kebijakan, keimanan, dan keluhan, sebab manusia yang terbungkus segala niat jahat terhadap manusia tersebut tidak akan kesampaian lagi.

4. Proses Pengukuhan I :
Dalam proses ini si pasien diberi makan sesajen berupa : ayam, anggir, air putih dan nasi putih. Sesajen ini diberikan dengan tujuan agar badan dan roh menyatu bersama kekuatan benua atas, bawah dan tengah menyatu dengan diri sendiri.

5. Proses Pengukuhan II :
Dalam proses ini si Pasien di mandikan ke dalam air pancuran atau air terjun dengan tujuan tahap penyatuan kekuatan benua atas, tengah dan bawah.


III. Pengobatan dengan barang pusaka
 
Siraja Purba mempunyai beberapa pusaka yang dinilai dengan cara petunjuk beserta legenda, pusaka-pusaka ini sangat erat hubungannya dalam kehidupan sehari-hari pada masa lampau sesuai dengan maksud dan tujuan masing-masing pusaka tersebut.
Adapun pusaka tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Solam Mulajadi.
  2. Piso Sipitu Sasarung (Pisau 7 mata 1 sarung).
  3. Piso Silima Sasarung (Pisau 5 mata 1 sarung).
  4. Piso Sitolu Sasarung (Pisau 3 mata 1 sarung).
  5. Piso Siseat Anggir.
  6. Piso Sunggul Sohuturon.
  7. Pukkor Anggir.
  8. Tutu.
  9. Sahang.
  10. Piso Gupak.
  11. Tukkot Tunggal Panaluan.
  12. Piso Halasan.
  13. Piso Tobbuk Lada.
  14. Hujur Siringis.
  15. Tukkot Sitanggo Merah.
  16. Piso Solam Debata.
  17. Piso Gaja Doppak.

1. Solam Mulajadi.
Solam Mulajadi atau Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.

2. Piso Sipitu Sasarung
Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya. Pada zaman dahulu kala setelah gunung pusuk buhit meletus 73.000 tahun yang lalu seorang keturunan Siraja Batak bernama Raja Batorusan yang selamat dari musibah tersebut pergi ke gunung pusuk buhit yang sekarang dan diatas gunung tersebut ada sebuah telaga. Setibanya di telaga tersebut dia melihat 7 orang putri turun dari langit dan mandi di telaga tersebut.

Raja Hatorusan pun tercengang dan heran. Maka iapun mencuri pakaian salah satu dari purti tersebut, sehingga putri tersebut pun tidak dapat terbang lagi ke langit dan iapun mempersuntingnya menjadi istrinya.
Dari legenda inilah awal dari Piso Sipitu Sasarung yang mana melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.

3. Piso Silima Sasarung
Pisau inilah pisau 1 sarung tetapi di dalamnya ada 5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.

4. Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan & kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.

5. Piso Siseat Anggir
Piso ini biasa digunakan pada saat membuat obat atau ilmu. Piso ini bertujuan hanya untuk memotong anggir (jeruk purut).

6. Sunggul Sohuturon
Sunggul Sohuturon ini terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul ini bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.

7. Pukkor Anggir
Pukkor Anggir ini digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya pada saat menusuk sebelum anggir tersebut di potong.

8. Tutu
Tutu ini bertujuan untuk menggiling ramuan-ramuan obat yang hendak digunakan pada orang sakit.

9. Sahang
Sahang ini adalah yang terbuat dari gading gajah. Sahang ini digunakan tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.

10. Gupak
Gupak ini biasanya digunakan memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.

11.Tukkot Tunggal Panaluan
Tongkat Tunggal Panaluan ini adalah tongkat sakti siraja batak yang diukir dari kejadian yang sebenarnya, yang merupakan kesatuan kesaktian benua atas, benua tengah dan benua bawah.

- Asal Mula Tongkat Tunggal Panaluan :
Pada suatu hari Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah. Walaupun sudah banyak negeri yang dilaluinya dan banyak sudah patung dan ukiran yang dikerjakannya, masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat dirinya selalu gelisah. 

Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal yang hanya itu saja terdapat pada padang belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun. Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang tumbuh pada diri Raja Panggana, ia melihat pohon itu seperti putri menari. 

Dikeluarkannya alat-alatnya, ia mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang menari. Ia sangat senang, gelisah hilang. Sebagai seorang seniman ia baru pernah mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu keagungan. Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang. Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putri. 

Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Apakah gunanya saya tetap bersama patung ini kalau tidak makan ? biarlah saya menari sepuas hatiku dengan patung ini untuk terakhir kali. Demikian Raja Panggana dengan penuh haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.

Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung sepuas hatinya.

Ia semakin terharu pada Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya menari. Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas menari ia berusaha membawa patung dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah makin gelap, ia berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini kutanggalkan. 

Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung. Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya. Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang rumput tiada berkawam.

Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah menari. Datu Partawar demikian nama dukun. Perkasa terpesona melihat patung di putri. Alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa.

Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. 

Dengan tekad yang ada padanya ini Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya. Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putri, mencium keningnya lalu berkata : mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale. 

Kemudian Datu Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya. Konon kata cerita kecantikan Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang berkenan pada hati Putri Naimanggale. Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa Partigatiga. 

Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia. Demikian pula Baoa Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Ia mendekati Putri Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap melekat di Badan Putri Naimanggale. 

Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena dialah yang memahatnya dari sebatang kayu.

Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang membuat nyawanya maka ia berada di dalam kehidupan. Apapun kata kalian itu tidak akan terjadi apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu. 

Baoa Partigatiga tertarik memberikan pakaian dan perhiasan karena pohon kayu itu telah menajdi patung yang sangat cantik. Jadi Putri Naimanggale adalah milik saya kata Raja Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, Datu Partawar tidak akan berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi nyawa padanya. 

Datu Partawar mengancam, dan berkata apalah arti patung hiasan jika tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya menjadi pemilik Putri Naimanggale. Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya. 

Demikianlah pertengkaran mereka bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu Partawar. 

Datu Partawar berkata : marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja, kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale. Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepetingan Putri Naimanggale bukan demi kepentingan kita. Putri Naimanggale saat sekarang ini bukan patung lagi tetapi sudah menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan demi kepentingan Putri Naimanggale.Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya apakah keputusan kita Datu Partawar ? Datu Partawar menjawab, Putri Naimanggale adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya. 

Mereka bertiga menanyakan pendirian Putri Naimanggale. Dengan mata berkaca-kaca karena air mata, air mata keharuan dan kegembiraan Putri Naimanggale berkata : “Saya sangat gembira hari ini, karena kalian bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya. Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti apabila kalian cekcok dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai.Mendengar kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan keakuannya masing-masing, dan memandang satu sama lain. 

Datu Partawar berdiri lalu berkata : Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita :
  1. Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale.
  2. Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale.
  3. Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale.

Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian, padan atau perjanjian mereka disepakati dengan :
  • Pertama, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi dengan jalan musyawarah.
  • Kedua, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar.

Baoa Partigatiga yang menjadi amangboru Putri Naimanggale Nasiddah Pangaluan meminang langsung Putri Naimanggale untuk menjadi suami anak yang bernama Guru Hatautan, dan atas persetujuan mereka Guru Hatautan dan Putri Naimanggale Nasindak panaluan pun menikah dan merekapun mengadakan pesta ritual untuk pernikahan ini.

Setelah mereka sudah lama kawin sebelum perempuan itu hamil. Perempuan itu sangat lama mengandung. Selama mengandung terjadilah kelaparan di daerah itu. sesudah tiba saatnya, Nan Sindak Panaluan melahirkan dua orang anak kembar, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.

Kisah ini menjadi aib bagi masyarakat Batak Toba. Anak kembar dengan jenis kelamin berlainan membawa malapetaka pada masyarakat setempat dan sedini mungkin secepatnya dipindahkan. Kemudian Guru Hatautan dan istrinya Nan Sindak Panaluan memberi nama kepada kedua anak kembar itu sesuai dengan adat yang berlaku pada masa itu. Anak laki-laki itu disebut Si Aji Donda Hatautan dan anak perempuan itu disebut Si Boru Tapi Nauasan.

Sesudah acara atau upacara pemberian nama, tokoh-tokoh masyarakat pada waktu itu menganjurkan untuk memisahkan kedua anak itu. alasannya adalah bahwa kedua anak kembar itu tidak akan mengindahkan norma-norma dan hukum adat dikemudian hari. umumnya sikap dan sifat anak kembar tidak jauh berbeda satu sama lain. Atas dasar pandangan ini masyarakat setempat pada masa itu menghendaki kedua anak kembar itu dipisahkan. Lama-kelamaan anak itu berkembang dan tumbuh dewasa. Rasa cinta dan keakraban tumbuh tanpa disadari kedua orang tersebut.

Pada suatu ketika mereka saling berjalan ke hutan bersama seekor anjing. Rasa cinta yang tumbuh tanpa disadari bergejolak pada saat itu. mereka melakukan hubungan seksual (incest). Sesudah melakukan hubungan yang tabu itu mereka melihat pohon si Tau Manggule yang sedang berbuah. Mereka ingin memakan buah pohon itu. si Aji Donda Hatautan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya. Seketika itu ia melekat pada pohon itu. Kemudian SiTapi Boru Nauasan memanjat pohon tersebut dan memakan buahnya dan ia pun melekat juga pada pohon itu.

Menurut terjadinya tunggal Panaluan merupakan hukuman dari Dewa-dewi, karena kedua anak kembar tersebut melakukan hubungan badan yang tidak sepantasnya. Kedua anak tersebut melekat pada pohon yang sedang berbuah menandakan bahwa Siboru Tapi Nauasan telah mengandung dari kakaknya Si Aji Donda Hatautan.

Sesudah kedua insan itu melekat pada pohon tersebut, mereka berusaha melepaskan diri, namun mereka tidak berhasil. Anjing yang ikut bersama mereka saat itu pergi memberitahukan keadaan kedua insan itu kepada orangtuanya. Guru Guta Balian bersama dengan Datu datang ketempat mereka untuk melepaskan mereka dari pohon tersebut. Beberapa Datu yang lain yang datang kemudian ikut berusaha melepaskan kedua insan itu, namun mereka semua ikut melekat pada pohon Piu-piu Tunggale tersebut. Susunan personil pada Tunggal Panaluan itu adalah Si Aji Donda Hatautan, Siboru Tapi Nauasan, Datu Pulu Panjang Na Uli, Si Parjambulan Namelbuselbus, Guru Mangantar Porang, Si Sanggar Meoleol, Si Upar Manggalele, Barit Songkar Pangurura.

Mitos terjadinya Tunggal Panaluan diceritakan dengan bentuk ajaran yang dialnjutkan secara turun temurun. Unsur rasionalitas mitos tersebut ialah bahwa Tunggal Panaluan sungguh ada hasil karya seni ukir masyarakat Batak Toba.

12. Piso Halasan
Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan :
“Yang tak mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus pisau Raja Sorimangaraja. Pisau Raja mendatangkan rejeki dalam kehidupan.Legenda Pisau Halasan:
Pada zaman dahulu seorang raja yang merantau ke kota Balige sudah lama tak mempunyai keturunan. Dengan demikian dia memanggil seorang anak sakti untuk menolong dia bagaimana caranya agar dia mempunyai keturunan. Maka anak sakti tersbeut menyatakan :
“Ambil besi dari dalam batu kemudian tempahlah besi tersebut dan buatlah pedangmu dan sebutlah namanya Piso Halasan, maka kau akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan.Dengan tulus hati Tuan Sorimangaraja melaksanakannya dengan menggunakan petir untuk memecahkan batu yang besar, diapun mendapatkan besi tersebut dan menempahnya menjadi pisau. Demikianlah asal-muasal Pisau Halasan.

13. Piso Tobbuk Lada
Piso Tombuk Lada adalah Pisau Kecil yang biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.

14. Hujur Siringis
Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.

15. Tukkot Sitonggo Mual
Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.

16. Piso Solam Debata
Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.

17. Piso Gaja Doppak
Piso Gaja Doppak ini adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping, dibelakang akan jauh. Biasa pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.

Pustaha Pengobatan Tradisional Batak - 1

Bona ni Pinasa suatu Lambang Perikehidupan

Bagi suku bangsa Batak, istilah Bona ni Pinasa
bukanlah suatu hal yang baru. Terjemahan dalam bahasa Indonesia maka artinya adalah “pohon nangka”. Bila terdengar dalam suatu kalimat berbahasa batak arti Bona ni Pinasa tak lain adalah sebuah perumpamaan yang melambangkan “Huta Hatubuan” atau kampung tempat kita dilahirkan.

Dari sekian banyak jenis pohon kenapa para leluhur suku bangsa batak harus menggunakan pohon nangka sebagai salah satu simbol dalam kehidupan sehari-harinya. Hal inilah dipercaya membuat orang-orang keturunan Batak yang berada di tanah perantauan bahkan diseluruh dunia akan selalu ingat jati dirinya.

Ada beberapa arti yang tersirat di dalamnya yaitu antara lain :
  1. PERTAMA, bila kulit pohon dilukai, digeret atau ditebas maka akan mengeluarkan getah yang berwarna putih dan akan mengalir terus memanjang ke bawah selama ia masih ada. Diumpakan terhadap keluarga dan keturunan orang Batak yang berada di perantauan dimana pun ia berada bila diurutkan tarombo (silsilah) akan tetap terhubung dan akan ingat kampung halaman. 
  2. KEDUA, dalam satu buah nangka yang utuh terdapat buah dalam jumlah banyak dan terpisah oleh sekat-sekatnya. Dalam daging buah terdapat biji. Daging buah adalah bagian yang dapat dimakan dan diumpamakanlah ini sebagai jabu/rumah yang banyak berada dalam satu perkampungan.
  3. KETIGA, sekat-sekat pembatas antara buah tersebut diumpamakan sebagai aturan, norma maupun adat istiadat yang mengatur hubungan antar keluarga dalam satu huta/kampung. Demikianlah eratnya hubungan antara sesama seperti rekatnya buah dan sekat pembatasnya.
  4. KEEMPAT, kulit buah nangka yang membungkus seluruh buah diumpamakan sebagai seorang pemimpin / raja yang berkuasa atas satu huta/kampung.
  5. KELIMA, biji buah nangka diumpamakan sebagai orang-orang penduduk kampung hidup secara turun temurun. Sebab kalau biji nangka ditanam dan dirawat akan dapat tumbuh.
  6. KEENAM, getah pohon diumpamakan sebagai (mudar) darah. Seorang ibu akan merasa kesakitan dan mengeluarkan darah pada saat melahirkan/persalinan, demikianlah setiap keturunan Batak dilahirkan, dibesarkan dan dewasa dengan perjuangan dan pengorbanan orang tua/nenek moyangnya. Sehingga tidak boleh sekali-sekali melupakan kesusahan orang tua itu.
  7. KETUJUH, batang kayu pohon nangka terkenal sangat kuat, keras, demikian juga akarnya tertanam banyak dan dalam ke bawah tanah. Inilah sebagai simbol betapa kuat dan teguhnya adat bagi orang Batak.
Banyak lagi kegunaan dari bagian-bagian pohon nangka (bona ni pinasa) yang berguna bagi manusia dan dapat dilambangkan bagi kehidupan bangsa Batak.  

Pada jaman dahulu kala leluhur bangsa batak sering hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal diantaranya untuk mencari lahan pertanian, peperangan antar huta, mencari krhidupan yang lebih layak dan lainnya. Lazimnya kebiasaan mereka bila sudah menempati tempat tinggal baru dan diam disana, mereka menanam pohon nangka (“pinasa”). Itulah sebagai simbol kehidupannya dan termasuk dapat memenuhi beberapa keperluan dari pohon nangka tersebut.

Bila mereka harus meninggalkan tempat tersebut atau dengan kata lain pindah ke tempat lain, suatu hari mereka akan selalu ingat ke huta panuanan ni pinasa tadi. Mereka akan mencari dan menemukan bona ni pinasa itu sudah besar pohonnya dan berbuah banyak. Sehingga timbul lagi keinginan dalam hati untuk tinggal dan diam disana.

Demikianlah leluhur bangsa Batak membuat istilah Bona ni Pinasa sebagai suatu lambang perikehidupan dan kebiasaan untuk dapat dimengerti anak cucu keturunannya.

AMPAPAGA


AMPAPAGA atau Daun Kaki Kuda dikenal dengan sebutan Pegagan: Tumbuhan ini di Indonesia mempunyai bermacam macam nama sesuai dengan daerah daerah. Di Jawa dikenal dengan calingan rambat, di Sunda : antanan rambat, di Makasar : pegaga, dan di Tapanuli : ampapaga.

Daun kaki kuda ini mengandung zat glikosida, triterpenoida, alkaloid hidrokotilin, steroid, tanin, minyak atsiri, dan garam garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi.

Daun kaki kuda ini juga dapat digunakan untuk mengobati bermacam macam penyakit, seperti penyakit kulit, sakit perut, radang usus, batuk, asma, bronkitis, peluruh air seni, obat kumur untuk sariawan, obat borok perut, luka luka kulit dan penyakit lepra. Hal ini diperkuat oleh Polonsky dan kawan kawannya dalam penelitian mereka. Mereka menemukan zat zat di dalam daun kaki kuda tersebut dapat menyembuhkan : Lepra, Anemia, Peradangan, Campak dan Asma. Ditemukan juga bahwa daun kaki kuda ini tergolong sedative (pereda, penenang) dan cardiotonic (penguat jantung) yang dapat juga memperbaiki daya ingat dan penenang orang yang kurang waras.

Daun kaki kuda ini dapat dilalap untuk penyakit, dapat direbus untuk sayuran dan dapat di ambil sarinya untuk terapi.

Pustaha Pengobatan Tradisional Batak - 1

Pustaha Pengobatan Tradisional Batak - Kitab Pengobatan    

Kitab ini menerangkan tentang bagaimana manusia agar selalu sehat, bagi orang sakit menjadi sembuh, bagaimana agar dekat dengan Tuhan dan bagaimana cara melaksanakan budaya ritual agar manusia itu sehat. Dalam kehidupan orang batak segala sesuatunya termasuk mengenai pengobatan selalu seiring dengan budaya ritual dan barang pusaka peninggalan leluhur jaman dahulu untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada sang pencipta agar manusia tetap sehat dan jauh dari mara bahaya. Mari kita buka kitab pengobatan ini :

Mulajadi Nabolon Tuhan Yang Maha Esa bersabda :
“Segala sesuatunya yang tumbuh diatas bumi dan di dalam air sudah ada gunanya masing-masing di dalam kehidupan sehari-hari, sebab tidak semua manusia yang dapat menyatukan darahku dengan darahnya, maka gunakan tumbuhan ini untuk kehidupanmu”. Apabila kita membaca ayat ini, maka jelaslah bahwa segala yang tumbuh di bumi dan di dalam air mempunyai kegunaan masing-masing di dalam kehidupan kita sehari-hari seperti : Lauk Pauk, empat sehat lima sempurna.

Itu sudah jelas dalam kehidupan kita sehari-hari, namun dalam buku ini kita akan menekuni tumbuhan yang lain dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang menderita penyakit.

Di dalam kehidupan Siraja Batak dahulu ilmu pengobatan telah ada, mulai sejak dari dalam kandungan sampai melahirkan.

1. Obat mulai dari kandungan sampai melahirkan
a. Perawatan dalam kandungan
b. Perawatan setelah melahirkan
c. Perawatan bayi
d. Perawatan Dugu-dugu

a. Perawatan dalam kandungan
Siraja Batak berpesan :
Jika hendak hubungan suami istri jangan dilakukan pada saat hujan turun agar kelak anak yang lahir tidak berpenyakit batuk-batuk, embun-embun, dan cawan.
Jika si Ibu sudah mengandung tiga bulan segala yang diinginkan sebaiknya harus diberikan sebab jika tidak diberikan, kelak si anak yang akan lahir dikemudian hari akan terkendala dalam mencari hidup.
Sebelum si Ibu melahirkan, orangtua dari si Ibu sebaiknya memberikan makanan adat batak berupa ikan batak beserta perangkatnya dengan tujuan agar si Ibu sehat-sehat pada waktu melahirkan dan anak yang akan dilahirkan menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa serta pada sanak saudara.
Jika waktu untuk melahirkan sudah tiba sanak saudara memanggil “Sibaso” (dukun beranak). Dukun beranak akan memberikan obat agar si Ibu tidak susah untuk melahirkan yang disebut SALUSU”.

SALUSU adalah:
Satu butir telur ayam kampung yang terlebih dahulu didoakan,selesai didoakan dihembus, kemudian dipecah lalu diberikan kepada si ibu untuk ditelan. Daun ubi rambat dan daun bunga raya direbus beserta air dari pancuran disaring lalu di minumkan kepada si Ibu mengarah ke bawah.
b. Perawatan setelah melahirkan dan anak yang baru lahir
Setelah si Ibu melahirkan, dukun beranak mengambil buah ubi rambat dan sisik bambu, lalu dukun beranak mematok tali pusat bayi dengan sisik bambu yang tajam dengan beralaskan buah ubi rambat dengan ukuran 3 jari dari bayi. Kemudian penanaman ari-ari bayi menurut orang batak biasa ditanam di tanah yang becek (sawah). Ari-ari dimasukkan dalam tandok kecil yang di anyam dari pandan bersama dengan 1 biji kemiri, 1 buah jeruk purut dan 7 lembar daun sirih. Setelah bayi lahir si dukun memecahkan kemiri dan mengunyahnya kemudian memberikannya kepada bayi dengan tujuan untuk membersihkan kotoran yang di bawa bayi dari kandungan sekaligus membersihkan dalam perjalanan pencernaan makanan yang pertama yang disebut TILAN (kotoran pertama) , Si dukun memberikan kalung yang berwarna merah, putih, hitam bersama Soit dan hurungan tondi.
         
SOIT :  
Sebuah anyaman kalung yang terdapat dari buah sebuah kayu.
HURUNGAN TONDI : Buah kayu yang bernama Kayu Hurungan Tondi, buah kayu yang bertuliskan tulisan batak. Kalung ini mempunyai kegunaan agar jauh dari seluruh mara bahaya, tekanan angin, petir dan seluruh setan jahat. Apabila bayi tersebut terus menerus menangis, maka dia dimandikan dengan bahan yang memotong pusar tadi, yaitu Kulit bambu, jeruk purut dan ubi rambat.

Pada hari ke tujuh setelah bayi lahir :
- Bayi tersebut dibawa ke Pancur dimandikan dan dalam acara inilah sekaligus pembuatan nama yang disebut dengan PESTA MARTUTU AEK yang dipimpin oleh Pimpinan Agama yaitu : ULU PUNGUAN.

c. Perawatan Bayi
Setelah bayi dimandikan biasanya DIPUPUS
PUPUS adalah mengunyah :
- 1 lembar daun sirih
- 1 buah kemiri
- 1 biji ladak putih
- 1 iris jarango
  
Selesai dikunyah di tempelkan ke ubun-ubun bayi dan sebahagian diolesi keseluruh tubuh bayi dengan tujuan :
Untuk memelihara tubuh bayi agar kuat dan tetap sehat Untuk menjauhkan bayi dari penyakit-penyakit demam, angin-angin dan sekaligus mengobatinya.
Untuk menjaga agar kelak dia besar tidak menderita penyakit sawan.

d. DUGU-DUGU
Dugu-dugu adalah : sebuah makanan ciri khas batak pada saat melahirkan, yang di resep dari bangun-bangun, daging ayam, kemiri dan kelapa.
Dugu-dugu bertujuan untuk :
Mengembalikan peredaran urat bagi si Ibu yang baru melahirkan
Membersihkan darah kotor bagi Ibu yang melahirkan
Menambah, menghasilkan air susu Ibu dan sekaligus memberikan kekuatan melalui asi kepada anaknya.

2. DAPPOL SIBURUK (obat urut dan tulang)
Dalam Bab sebelumnya diterangkan bahwa asal mula manusia menurut orang batak adalah dari ayam atau burung. Obat Dappol Siburuk ini dulunya berasal dari Burung Siburuk yang mana langsung dipraktekkan dengan penelitian alami dan hampir seluruh keturunan Siraja Batak menggunakan obat ini dalam kehidupan sehari-hari.
Dappol artinya : Urut / Kusuk
Siburuk artinya : Seekor Burung

Legenda Dappol Siburuk :
Pada zaman dahulu kala hiduplah sebuah keluarga mempunyai anak satu-satunya. Suatu hari si anak tersebut jatuh dari atas kelapa dan terbentur ke batu, si ayah pun susah dan sedih sebab tulang anaknya sudah remuk dan patah, demikian juga uratnya, padahal dia adalah anak satu-satunya.
Dalam suatu malam si ayah tersebutpun menyediakan sesajen dan berdoa menyatukan darah putih Tuhan dengan darahnya sambil memanggil roh-roh Tuhan yang ada pada badannya (seperti yang tertulis sebelumnya) Setelah itu pada malamnya dia bermimpi :

Seorang orangtua menghampirinya dan berkata dalam mimpi :
" Dibelakang rumahmu ada sarang burung siburuk yang baru menetas, ikatlah anaknya dengan benang tiga warna. Warna merah, putih, hitam. Setelah kamu ikat patahkanlah kakinya, tangannya, lehernya dan semua badannya kau remukkan, tetapi jangan mati. Setelah itu tunggulah selama sembilan hari dan kau lihatlah kembali anak burung tersebut akan sembuh. Setelah itu ambillah anaknya beserta sarangnya, masaklah dengan minyak kelapa dan gunakanlah itu untuk mengobati anakmu, maka diapun akan sembuh".

3. Siraja Batak berpesan kepada keturunannya :
Supaya manusia dapat hidup sehat, maka makanlah atau minumlah :
Apapaga.
Ariman.
Anggir.
Addorabi.
Alinggo.
Abajora.
Ambaluang.
Assising.
Arip-arip
 
  
4. Mata
Mata adalah salah satu panca indra sekaligus penentu dalam kehidupan manusia menurut orang batak. Menurut legenda batak pada mata manusia berdiam Roh Raja Simosimin di dalamnya. Apabila mata kabur atau berlapis penyakit, maka cara penyembuhannya di lakukan cara seperti pesan Siraja Batak berikut ini :

" Untuk mengeluarkan penyakit dari dalam mata, masukkanlah biji SIRINTAK kedalam mata yang sakit, setelah itu tutuplah mata dan tunggulah beberapa saat, karena biji SIRINTAK akan menarik seluruh penyakit yang ada dari dalam mata. Gunakanlah 1 x 19 hari, supaya mata tetap sehat " .

SIRINTAK adalah tumbuhan Batak yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti mencabut(mengeluarkan), nama ramuannya sama dengan nama tujuannya.
Mengapa harus 19 hari ? Karena induk aksara batak ada 19 dan semuanya dikerjakan oleh mata.

5. Kharisma, wibawa, kesehatan dll :
Dalam kehidupan orang batak dahulu supaya manusia dapat sukses dalam segala hal biasanya di wajibkan membuat sesajen berupa :

  • Ayam Merah.
  • Ayam Putih.
  • Ayam Hitam.
  • Ketam Beras (Nitak)Jeruk Purut.
  • Sirih beserta perlengkapannya.
      
 6. Tawar Mula Jadi
Di dalam kehidupan orang batak terdahulu banyak dari mereka yang menderita penyakit kulit bahkan sampai membusuk. Melihat kejadian tersebut Siraja Batak berpesan bahwa untuk mengobati setiap orang yang berpenyakit kulit supaya menggunakan :
Tawar Mulajadi
Tawar Mulajadi adalah sesuatu yang berasal dari asap dapur. Orang batak pada jaman dahulu biasanya menggunakan kayu di dapur untuk memasak, maka diatas dapur tersebut ada serpikan hitam bergantungan dan itu terjadi dari asap pada saat memasak setiap waktu. Menurut orang batak itulah Tawar Mulajadi atau Tappar Api.   
Rumpak 7 macam kemudian diseduh dengan air hangat.

7. Penggunaan Lain
Dalam kitab semula sudah dikatakan bahwa segala yang hidup diatas tanah dan di dalam air sudah ada kegunaanya. Memang dalam kehidupan orang batak segala sesuatu yang diperlukan untuk kepentingan manusia telah ada petunjuknya dari leluhur tergantung kebutuhan apa dan penyakit apa yang diderita, segala sesuatu Tuhan telah menciptakan tujuannya masing-masing hanya mungkin berapa orang yang tahu menggunakannya. Dalam buku ini tidak saya utarakan sebab sangat luas maknanya dan permintaan manusia berbeda-beda.

8. Budaya ritual dalam pengobatan
 
Pada saat Mulajadi Nabolon kembali ke benua atas, Mulajadi Nabolon bersabda kepada Raja Ihat Manisia dan Siboru Ihat Manisia. “Jika kamu sekalian penghuni Benua Tengah hendak berhubungan dan bersekutu dengan kami penghuni Benua Atas, maka segala jenis sesajen yang hendak kamu persembahkan harus disusun rapi dan bersih serta diiringi dengan rasa penyampaian yang tulus dan suci.  Sudah kuberikan kepadamu Hata Dua, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dan dirimu harus bersih dan suci". Bersumber dari ajaran tersebut Parmalim memberikan pelean atau sesajen suci dengan dihantar asap dupa dan air suci serta bersih tidak boleh makan daging babi dan anjing serta darah dan bangkai. Sebagai tindak lanjut ajaran tadi Ugamo Malim mempunyai rukun dan aturan yang dilaksanakan dan menjadi pedoman prilaku Parmalim antara lain :

1. Marari Sabtu,
Pada setiap hari sabtu atau samisara seluruh umat Parmalim berkumpul di tempat yang sudah ditentukan baik di Bale Partonggoan, Bale Pasogit di pusat maupun ruma Parsantian di cabang/daerah untuk melakukan sembah dan puji kepada Mulajadi Nabolon dan pada kesempatan itu para anggota diberi poda atau bimbingan agar lebih tekun berprilaku menghayati Ugamonya.
 
2. Martutuaek,
Upacara yang dilakukan di rumah umat yang mendapat kelahiran seorang anak, atau pemberian nama kepada anak. Anak yang baru lahir sebelum dibawa bepergian kemana-mana harus lebih dahulu diperkenalkan dengan bumi terutama air untuk memebrsihkan dan ini dilaksanakan membawa anak tersebut ke umbul mata air disertai dengan bara api tempat membakar dupa. Kemudian baru dibawa ke dunia baru yaitu pasar dan diberi buah-buahan, manis perlambang hari depan yang makin manis. Setelah dirumah dilanjutkan lagi dengan upacara, bergantung pada kemampuan keluarga tersebut. Pada saat pulang dari pasar tadi, siapa saja diinginkan oleh keluarga si anak meminta buah-buahan bawaan si anak tadi sebagai perlambang bahwa si anak kelak akan bersifat maduma.

3. Mardebata,
yaitu upacara yang sifatnya individual dimana seorang melaksanakan upacara sendiri tanpa melibatkan orang lain. Ritual ini sendiri mempunyai tujuan ganda yaitu meminta keampunan dosa atau menebus dosa dan syukuran. Seseorang yang merasa dirinya menyimpang dari aturan patik perlu menyelenggarakan perdebatan sebagai sarana penebus dosanya. Bagi orang lain pardebataon itu mungkin pula untuk mewujudkan kaulnya.

Mardebata ini boleh pula melibatkan yang lain. Hal itu bergantung kepada yang mampu. Karena Mardebata itu boleh oleh orang seorang boleh oleh keluarga dan seterusnya. Jika upacara dibuat besar-besaran misalnya untuk mewujudkan niatnya harus dengan menyediakan sesaji dengan secukupnya dan boleh pula dengan dihantar gendang sabangunan serta diatur oleh tata upacara resmi sesuai dengan tata upacara dari Ihutan atau dari Uluan.

Upacara Mardebata ini bagi yang mampu nampaknya sudah seolah-olah pesta, karena undanganpun dapat pula dilaksanakan. Jadi jelas bergantung pada nazar dikandung oleh yang terlibat. Jika satu nenek moyang sudah berniat untuk memuja Mulajadi Nabolon dengan jalan Mardebata hal itu dapat dilakukan oleh satu nenek moyang itu.
  
4. Pasahat Tondi,
Upacara kematian dibagi dalam dua tahap. Pertama adalah pengurasan jenazah menjelang pemakaman, kedua adalah pasahat tondi. Pemberangkatan jenazah dipimpin oleh Ihutan atau Ulupunguan dengan upacara doa : “Borhat ma ho tu habangsa panjadianmu”, Artinya : Berangkatlah engkau ke tempat kejadianmu. Satu minggu setelah pemakaman, keluarga yang ditinggal mengadakan pangurason tersemayamkan di rumah.    Satu bulan setelah pemakaman, dilanjutkan dengan Upacara Pasahat Tondi yaitu upacara mengantar roh dalam hati harfiah. Tuhan menciptakan manusia atas dua bagian yaitu badan dan roh (pamatang dohot tondi). Apabila badan mati, toh tidak ikut mati, ia akan kembali kepada penciptanya, sesuai dengan pandangan ketuhanan Parmalim, bahwa “Ngolu dohot hamatean huaso ni Debata” artinya “kehidupan dan kematian adalah kuasa Tuhan.    Upacara ini adalah upacara tonggo-tonggo atau dosa. Dapat dilakukan dengan sederhana dan dapat pula dilakukan dengan besar-besaran bergantung pada kemampuan keluarga yang ditinggal. Tentu dengan demikian sesaji harus terhidang dan upacara harus memenuhi keseluruhan tata tertib acara berdasarkan Ugamo Malim. Ini bulan berarti bahwa acara tidak boleh dibuat sederhana. Boleh dengan acara sederhana, yang pokok adalah bagaimana inti pasahat tondi itu harus terlaksana.

5. Mangan Napaet,
adalah upacara atau berpuasa untuk menebus dosa dilaksanakan selama 24 jam penuh pada setiap penghujung tahun kalender batak yaitu pada ari hurung bulan hurung. Upacara ini adalah bersifat umum dilaksanakan oleh setiap cabang atau ganup punguan. Perangkat dasar upacara ini selain pangurason dan pardupaon yang terpenting ialah makanan napaet, diramu dari beberapa jenis buah dan daun yang pahit, seperti daun pepaya, buah ingkir, babal, cabe rawit, jeruk bali muda dan gara.

Mangan Napaet dilakukan pada awal puasa dan pada akhir sebelum berbuka, sedangkan ritual dimulai jam. 12.00 tengah hari. pada saat semua jemaat berkumpul di parsantian atau dirumah Ihutan/Ulupunguan, upacara dasar dimulai berupa puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon-Raja Nasiak bagi dan kemudian untuk mengingatkan hukumnya mangan napaet. Mangan Napaet dimulai dengan cara mengedarkan napaet tadi secara estafet. Mangan Napaet adalah merupakan pengabdian warga parmalim kepada Raja Nasiak bagi yang menderita untuk manusia. Dan juga arti mangan napaet adalah symbol kehidupan dari pahit menjadi manis, karena sudah mangan napaet akan diakhiri dengan mangan natonggi dan inilah permulaan hidup prilaku baru untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. setelah mangan napaet maka dilaksanakan pula upacara persembahan kambing putih kepada Mulajadi Nabolon.
  
6. Upacara Sipaha Sada,
adalah merupakan upacara yang paling hikmad dan mengandung nilai religius yang paling dalam, bagi Umat Parmalim. Pelaksanaan upacara ini disambut gembira karena sehari sebelumnya Parmalim baru saja selesai mengadakan upacara mangan napaet yaitu satu cara upacara pembebasan manusia dari dosa.

Upacara Sipaha Sada adalah penyambutan datangnya tahun baru Ugamo Malim atau pada Sipaha Sada inilah pergantian tahun terjadi. Boleh dikatakan Sipaha Sada ini adalah tahun baru batak. Pada upacara ini pada umumnya seluruh orang batak melakukan dialog bathin. Dan hari berikutnya dinamai Suma. Pada hari itu diperingati hari lahir Simarimbulubosi. Upacara dipusatkan di Bale Pasogit. Upacara ini melakukan sesajen juga kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada ketiga wujud pancaran kuasa yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Debata Balabulan dan seterusnya sampai kepada Raja Nasiakbagi dihantarkan dengan asap dupa, air suci dan dengan bunyi gendang

Upacara ini dilaksanakan bersama di Bale Pasogit. Dengan demikian semua umat Parmalim. Pada upacara ini dilaksanakan dengan tertib dan memang benar-benar tertib dan hikmad karena dianggap hari tersebut adalah memperingati kelahiran Tuhan.

7. Upacara Sipaha Lima,
yaitu upacara dilakukan pada bulan kelima kelender Batak untuk menyampaikan puji-pujian kepada Mulajadi Nabolon termasuk kepada wujud Pancaran Kuasanya mulai dari Debata Batara Guru-Debata Sori dan Balabulan dan seterusnya kepada Raja Nasiakbagi, karena atas berkatnya semua mereka memperoleh rahmat, sehat jasmani dan rohani. Upacara ini disebut Upacara Kurban, karena sajian yang dipersembahkan adalah hewan kurban dari kerbau atau lembu.

Sajian pertama kepada Mulajadi Nabolon yang seterusnya diantar dengan asap dupa dan air suci dan dengan bunyi gendang sabangunan.

Penyelenggaraan upacara Sipaha Lima ditetapkan pada hari ke 12-13 dan 14 menjelang bulan purnama. Hari tersebut dinamakan Boraspati, Singkora dan Samisara berkisar antara bulan Juli-Agustus pada bulan Masehi. Upacara diadakan dengan sajian yang lengkap dilaksanakan dengan penuh khikmad tanpa syukur Parmalim kepada Tuhannya dan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan pada hari-hari berikutnya.

Jika pandangan Batak Tua mengenai ketuhanan dikembangkan Parmalim dengan ugamo Malim, maka berikut ini yaitu oleh masyarakat Batak sekarang masih memperilakukan pandangan tersebut pada kehidupannya sehari-hari dalam bentuk budaya ritual. Untuk lebih memahami pendapat ini marilah kita mulai lagi melihat pandangan dan kehidupan masyarakat Batak dahulu dengan masyarakat Batak sekarang.

Lambang wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon adalah hembang atau bendera-bendera berwarna hitam diatas, putih ditengah dan merah dibawah dalam satu kesatuan yang disebut Debata Natolu. Warna Hitam adalah lambang Debata Batara Guru dari wujud pandang kuasa Mulajadi Nabolon dalam kebijakan atau hahomion. Artinya adalah bahwa pikiran manusia tidak mampu meneliti atau memikirkan kebijakan Mulajadi Nabolon.

Hahomion Mulajadi Nabolon itu dapat dialami tetapi tak dapat dipikirkan. Sebagaimana warna hitam pekat demikian pulalah gepalnya pikiran manusia atau kebijakan Mulajadi Nabolon. Manusia tidak dapat meramalkan dan meraba seperti gelapnya warna hitam, demikian pulalah dangkalnya dan gelapnya pikiran manusia tentang kebijakan Tuhan. Manusia tidak mampu untuk itu. oleh sebab itu lambang hitam dari Batara Guru adalah pertanda penyerahan diri kepadaNya.

Hanya terserah pada kebijakan Tuhanlah kehidupan manusia. Manusia tidak akan dapat berjalan pada warna hitam yang ketat, malam yang gelap. Maksudnya manusia tidak akan dapat berjalan di dunia ini oleh dirinya sendiri. Sebab itu berserah kepadaNya-lah dikemanakan hidup ini. Apalah arti manusia dibandingkan dengan Kuasa Agung yang dimilikiNya. Berserah kepada kebijakan Tuhanlah hidup ini karena Dialah kebenaran yang menetapkan kebijakan itu. jadi arti warna hitam pada lambing adalah berserah diri kepada kebijakan Tuhan atau berserah diri kepada hahomion ni Debata atau dengan kata lain : “Tung asi ni roha ni Debata ma”. Warna putih dari hembang adalah lambing Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kesucian atau hahomion. Putih tidak dapat dibedakan. Dengan demikian dalam warna putih tidak terdapat perbedaan. Demikianlah Debata Sohaliapan bahwa pada diriNya tidak ada perbedaan maka sering dikatakan Putih ada perbedaan pada dirinya. Dia harus sama dengan yang lain. Apabila dia sudah sama dengan yang lain, dan itu pula-lah hukum kekuatan baginya dan dialah menjadi penguasa hukum kekuatan itu (habonaron).

Warna merah dari hembang adalah lambang Debata Balabulan sebagai wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon mengenai kekuatan. Balabulan adalah wujud kejadian kekuatan alam itu. merah adalah warna tanah atau rata dalam bahasa batak, merah itu adalah perlambang kegairahan untuk hidup. Justru kegairahan untuk hidup itulah maka timbul keberanian.

Seseorang yang berani ia tidak takut mati, maka sering kita dengar : “Mardomu di tano rara hita”. maksudnya mereka baru berjumpa setelah mati. Agar mati itu jangan sampai terjadi maka harus tetap kuat. Agar tetap kuat inilah dilambangkan dengan merah yaitu wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon menjadi kekuatan. Warna merah adalah perlambang kekuatan dan agar tetap kuat (hagogoon). Setiap manusia mengharapkan kekuatan ada padanya. Kekuatan itu belum sempurna apabila hanya untuk diri sendiri. Dan lebih tidak sempurna lagi apabila tidak diridhoi Tuhan. Apabila kita padu arti ketiga warna tadi, maka dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa hitam itu adalah kebijakan Tuhan, putih itu adalah kesucian Tuhan dari Tuhan, dan merah adalah kekuatan Tuhan (hahomion-hamalimon-hagogoon). Dengan melihat bendera atau lambang yang warnanya hitam diatas, putih ditengah dan merah dibawah, itu berarti menggambarkan kebijakan, kesucian dan kekuatan dari Tuhan. Artinya yang dilambangkan dalam bendera itu adalah Batara Guru sebagai wujud pancaran kuasa kebijakan, Debata Sorisohaliapan sebagai wujud pancaran kuasa kesucian dan Debatabulan sebagai wujud pancaran kuasa kekuatan dari Mulajadi Nabolon.

Lambang ini boleh dipisah-pisah seperti satu bendera tetapi dipacakkan berdekatan, dengan ketentuan hitam di kanan, putih ditengah dan merah dikiri. Kesimpulan arti lambang bahwa warna hitam – putih – merah merupakan kebijakan-kesuciannya dan kekuatannya tidak dapat dibandingkan, tidak bermula dan tidak akan berakhir dan mula segala yang ada. Ini adalah merupakan keyakinan orang batak pada umumnya dari dahulu sampai sekarang. Mengapa penulis berani mengatakan demikian, baiklah penjelasan berikut ini. Mungkin kita geli apabila diingat pada masa-masa kanak-kanak dahulu disuruh orangtua memakai boning menalu diikat ditangan jika ada wabah penyakit. Agar kita jangan dihinggapi penyakit, agar kita jangan dihinggapi penyakit, demikian pandangan kita waktu itu. kegelian hati kita sekarang inipun sebenarnya tidak berdasar karena sampai saat inipun kita semua dan masyarakatpun sehari-hari.

Bonang Manalu tiga benang masing-masing warna hitam atau biru, putih dan merah dipilin menjadi satu adalah symbol doa masyarakat batak merupakan keyakinan bahwa seseorang akan selamat apabila yakin bahwa tidak ada yang lebih kuat dari Tuhan Yang Maha Esa mula kebijakan, kesucian dan kekuatan itu. apabila saya memakai bonang manalu berarti saya telah yakin bahwa apapun yang akan terjadi baik pada saat ada wabah penyakit saya akan tetap selamat berkat kepercayaan saya yaitu Tuhan yang saya puja itu jauh lebih kuat dari kita seluruhnya. Saya yakin dan percaya bahwa saya akan tetap selamat berkat kepercayaan saya bahwa Tuhanku pemilik hahomion itu pemilik kesucian itu pemilik kekuatan itu adalah lebih kuat dari segala yang ada untuk melindungi saya.

Ulos yang masih dipakai orang batak dalam kehidupan ada adatnya adalah bonang manalu, warna pokok dari setiap ulos batak adalah hitam putih dan merah, sedang warna lain adalah variasi kehidupan. Justru inilah ritual ulos dalam adat batak. Symbol Tuhanlah yang tergambar dalam ulos batak. Mangulosi dalam adat batak adalah upacara ritual dan khikmadnya masih dapat dirasakan masyarakat batak. Gorga adalah bonang manalu perlambang doa masyarakat batak akan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa mampu mengayomi manusia. Gorga itu dipakai pada rumah maka disebut ruma gorga. Penghuni Ruma Gorga akan tetap yakin bahwa mereka akan selamat-selamat berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa. Gorma warna hitam-putih-merah dalam kehidupan orang batak bukan lah hiasan atau hiburan, tetapi adalah symbol keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Gorga dimana sajapun dipakai terutama pada solubolon selain dirumah adalah bermakna keyakinan tersebut. Hidup orang batak tidak dapat terlepas dari Bataraguru dari Debata Sorisohaliapan dan Debata Balabulan dalam arti kekerabatannya yaitu hahomion ni Debata. gambaran Bataraguru, gambaran Debata Sorisohaliapan dan gambaran Debatabulan terdapat pada kehidupan masyarakat batak dalihan natolu.

Justru dalihan natolu pandangan hidup orang batak adalah perwujudan kehidupan dan titisan dari banua ginjang. Dalihan Natolu adalah gambaran tersebut.bahwa hula-hula adalah titisan hahomion dari wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon yaitu Bataraguru. Hasuhuton namardongan tubu adalah titisan hamalimon dari wujud pancaran kuasa Mulajadi Nabolon yaitu Debata Sirisohaliapan dan Boru adalah titisan kekuatan dari wujud pancaran kuasa v yaitu Debata Balabulan.

Kita tidak akan heran tetapi mungkin akan kagum bahwa ulos dari hula-hula lebih banyak hitamnya dari warna putih dan merah maka ulos hula-hula itu warna sibolang dan sitolu tuho. Demikian ulos dari hasuhuton atau yang dipakai hasuhuton namardongan tubu lebih banyak putihnya dari warna hitam dan merah maka ulos hasuhuton warna ragi idup. Tentu demikian pula ulos boru atau yang dipakai boru lebih banyak warna merahnya dari pada warna putih dan hitam maka ulos boru atau yang dipakai boru itu warna sadum dan warna mangiring. Perhatikan ulos parompa kebanyakan berwarna hitam-biru dan putih. Budaya batak cukup tinggi dan bernilai tinggi dalam kehidupan spiritual. Budaya itu akan tumbuh dan berkembang. Oleh sebaba itu masih perlu kita lihat hal-hal yang lama apa kaitannya dengan masa depan.

Salah satu dari yang lama itu misalnya mengenai sajian diperuntukkan kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu yaitu Bataraguru-Debata Sori dan Balabulan. Sajian untuk Nabolon dan Debata Natolu adalah kambing Putih dan kepada Bataraguru adalah manuk jarum bosi berarti warna hitam, kepada Debata Sori adalah manuk putih warna putih dan kepada Balabulan adalah manuk mira polin berarti warna merah. Bila pengertian bonang manalu telah kita ketahui beserta ulos gorga apakah arti dan makna sajian atau pelean dengan warna tadi yang diberikan kepada Tuhanh Yang Maha Esa. Dan apabila dibandingkan dengan pengertian pelean sekarang ini, apakah pelean yang diciptakan nenek moyang kita itu tidak sejajar dengan perkembangan zaman.

8. Tortor Pangurasan
Tortor Pangurason (Tari Pembersihan). Tari ini biasanya digelar pada saat pesta besar yang mana lebih dahulu dibersihkan tempat dan lokasi pesta sebelum pesta dimulai agar jauh dari mara bahaya dengan menggunakan jeruk purut.

9. Tortor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan)
Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja, tari ini juga berasal dari 7 putri kayangan yang mandi disebuah telaga di puncak gunung pusuk buhit bersamaan dengan datangnya piso sipitu sasarung (Pisau tujuh sarung).Gbr dibawah.

10. Mangapus hoda miakan
Budaya ritual mangapus hoda miakan ini sangat jarang digelar sebab budaya ini digelar pada pesta pengukuhan siraja batak, ini digelar terakhir sekali pada pesta pengukuhan Raja Sisingamangaraja menjadi Siraja Batak dengan menggunakan makan kuda putih.

11.Tortor tunggal panaluan
Tortor tunggal panaluan merupakan suatu budaya ritual ini biasa digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka tanggal panaluan ditarikan oleh para dukun untuk mendapat petunjuk solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Sebab tongkat tunggal panaluan adalah perpaduan kesaktian Debata Natolu yaitu Benua atas, Benua tengah dan Benua bawah. Gbr dibawah.

12. Mangalahat Horbo
Mangalahat Horbo termasuk budaya ritual yang sangat penting sebab setiap tahun dilaksanakan pada hari kelahiran raja, hatorusan acara ritual ini sekaligus memberi sesajen kepada Mulajadi Nabolon dan Debata Natolu agar setiap manusia jauh dari mara bahaya.
Budaya ritual mangalakat horbo ini merupakan kunci dari seluruh ritual budaya batak kepada Mulajadi Nabolon.

13. Bahan pengobatan ritual yang selalu harus dibutuhkan.
Dalam pengobatan tradisional batak tidak selamanya menggunakan tumbuhan. Ada juga menggunakan makanan dan budaya ritual dalam pengobatan batak, suku batak selalu menggunakan anggir dan daun sirih dari seluruh kegiatan pengobatan dan budaya ritual.

14.Pengobatan dengan budaya ritual penyucian
Pengobatan ini biasa dilakukan dengan memandikan para pasien ke dalam air yang mengalir dengan menggunakan anggir dan tumbuhan lain yang sifatnya bertujuan membuang penyakit dari tubuh si penderita. Biasanya setelah selesai dimandikan setibanya dirumah akan diberikan makanan berupa ayam bagi laki-laki dan ikan bagi para wanita dengan tujuan agar roh para penderita menyatu dengan badan. Sebab manusia yang sakit biasanya karena rohnya tidak berada di dalam jasad.

15. Ilmu Pelindung
Dalam Ilmu Pelindung ini biasanya orang mencintainya dengan tujuan agar manusia tersebut jauh dari mara bahaya dan sekaligus membangunkan roh-roh kekuatan yang ada pada tubuh kita.

Dalam memberikan ilmu pelindung ini biasanya si penerima dibersihkan dibungkus dengan kain 3 warna, merah, putih, hitam dengan harapan merah kekuatan, putih kesucian dan hitam kebijakan berdiam dan bangkit dalam dirinya dan darahnya, sambil air jatuh di kepala si penerima dan si pemberi saling memohon untuk ilmu perlindungan tersebut.



Baca juga artikel tentang